Kunto88's Blog

November 24, 2009

Tipikal Karakter Konsumen Indonesia

Filed under: Marketing — Surya @ 2:48 am

Konsumen Indonesia amat getol dengan gengsi. Banyak yang ingin cepat naik “status” walau belum waktunya.

Dari sepenggal kata-kata diatas bisa diketahui bahwa konsumen Indonesia punya karakter unik dalam hal konsumsi suatu barang. Saking pentingnya urusan gengsi ini, segala barang yang belum terlalu dibutuhkan atau berlebihan bisa dibeli.

sebagai contoh adalah Jika Anda melancong ke Kuala Lumpur, Malaysia, coba iseng-iseng hitung berapa jumlah mobil mewah—misalnya BMW dan Mercedes-Benz (Mercy)—yang menggelinding di jalan raya. Jangan heran, kalau sulit menemukannya di antara ribuan mobil merek Proton dan Perodua. Kalaupun ada, jumlahnya mungkin tidak lebih dari 10 buah.

Jumlah mobil mewah yang meluncur di jalan tergolong besar untuk ukuran Indonesia yang pendapatan per kapitanya masih rendah. “Ini terjadi karena banyak konsumen melihat mobil bukan pada fungsinya, tetapi apakah mobil tersebut membantu mereka menaikkan status mereka,” tandas Handi Irawan D.

Menurutnya, ada tiga budaya dan norma di masyarakat Indonesia yang menyebabkan gengsi. Pertama, konsumen Indonesia suka bersosialisasi. Ini kemudian mendorong orang untuk pamer atau tergoda untuk saling pamer. Kedua, kita masih menganut budaya feodal yang menciptakan kelas-kelas sosial. Akhirnya, terjadi “pemberontakan” untuk cepat pindah kelas. Ketiga, masyarakat kita mengukur kesuksesan dengan materi dan jabatan. Akibatnya, banyak di antara kita ingin menunjukkan kesuksesan dengan cara memperlihatkan materi yang dimiliki.

Karakter gengsi ini bisa dijelaskan dengan memakai teori Maslow tentang lima tingkatan kebutuhan manusia :

1. Kebutuhan yang paling dasar yaitu kebutuhan fisik seperti makanan dan minuman

2. Kebutuhan yang bersifat keamanan dan nyaman dengan lingkungan sekitar

3. Kebutuhan bersosialisasi

4. Kebutuhan dalam menempatkan gengsi, status, dan pencapaian

5. Mulai mengisi kebutuhan yang sesuai dengan kebutuhan mereka dan berbagi dengan orang lain.

Ini merupakan celah yang bisa diambil oleh para marketer melihat jumlah orang kaya di Indonesia,  seharusnya banyak produk yang tidak semestinya memiliki omzet sebesar yang mereka dapat kini. Penyebabnya, banyak orang yang mulai kaya, kemudian ingin “status” mereka cepat naik walau sebenarnya belum waktunya.

Contoh, pada Starbucks, Konsumen di Indonesia bukan cuma menikmati suasana nyaman dan rasa kopi yang ditawarkan oleh kedai kopi yang berasal dari Seattle itu. Mereka juga menikmati “experience” di kafe terbuka, yang bisa dengan melihat dan dilihat orang lain. To see and to be seen. Mereka merasa statusnya naik jika berada di Starbucks atau kafe-kafe mahal lain yang terbuka dan mudah dilihat orang.

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

The Rubric Theme Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: